Marsam999's WeBlog

My jurnal weblog

  • Kalender

    Juni 2009
    S S R K J S M
         
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

MENGELOLA AGRIBISNIS

Posted by marsam999 pada Juni 5, 2009

A. KONSEP MANAJEMEN

1. Pengertian Manajemen

Pengertian manajemen sampai saat ini masih sulit dicari keseragamannya. Dalam praktik, tidak ada pengertian manajemen yang diterima secara universal. Pengertian manajemen begitu luas, sehingga dalam praktik tidak ada pengertian yang digunakan secara konsisten oleh semua orang. Untuk mengetahui pengertian manajemen, maka pada materi ini akan dibatasi tiga pengertian manajemen yaitu:

a.  Manajemen sebagai Suatu Proses

Pembahasan tentang manajemen akan diawali dengan pengertian manajemen yang lebih kompleks, dan mencakup aspek-aspek penting pengelolaan, seperti yang dikemukakan oleh James A. Stoner berikut ini. Manajemen merupakan suatu proses, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha dari anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Pengertian manajemen sebagai suatu proses menerangkan bahwa semua manajer,tanpa mempedulikan  kecakapan atau keterampilankhusus mereka harus melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai tujuantujuan yang mereka inginkan. Dari pengertian tersebut, manajer akan menggunakan sumber daya organisasi, keuangan, peralatan, dan informasi termasuk juga sumber dayanya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Untuk itu, manajer harus menggunakan sumber daya organisasi lainnya dalam mencapai tujuan secara optimal. Misalnya, manajer produksi berharap untuk meningkatkan hasil produksinya. Ia tidak cukup hanya memotivasi karyawan produksi saja, namun juga perlu menyediakan peralatan yang memadai. Salah satunya dengan membeli peralatan produksi yang baru dan lebih canggih. Ini berarti manajer menggunakan dua sumber daya, yaitu sumber daya manusia dan sumber daya finansial untuk mencapai tujuan tersebut.

b. Manajemen sebagai Hubungan Kolektivitas yang Melakukan Aktvitas Manajamen

Manajemen merupakan fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasiusaha-usaha individu untuk mencapai tujuan bersama. Hal tersebut yang dikatakan oleh Haiman. Sedangkan menurut George R. Terry, manajemen merupakan pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Dari pendapat dua ahli ekonomi tersebut, dapat dikatakan bahwa manajemen adalah segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu. Apakah yang dimaksud dengan aktivitas manajemen itu?

Aktivitas manajemen adalah kegiatan orang-orang yang bekerja untuk menentukan, menginterpelasikan, dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan personalia dan kepegawaian, pengarahan, dan pengawasan.

c. Manajemen sebagai Seni dan Ilmu

Manajemen sebagai seni berfungsi untuk mencapai tujuan yang nyata mendatangkan hasil atau manfaat. Sedangkan, manajemen sebagai ilmu berfungsi menerangkan fenomena-fenomena (gejala-gejala), kejadian-kejadian, keadaan-keadaan, jadi memberikan penjelasan-penjelasan. Selain itu, manajemen sebagai ilmu bersifat universal dan mempergunakan kerangka ilmu pengetahuan yang sistematis, mencakup kaidah-kaidah, prinsip-prinsip, dan konsep-konsep yang cenderung benar dalam semua situasi manajerial. Ilmu pengetahuan manajemen dapat diterapkan dalam semua organisasi, seperti perusahaan, pemerintah, pendidikan, sosial, keagamaan dan lain-lain. Unsur keilmuan merupakan kumpulan pengetahuan yang tertentu, seperti yang dinyatakan oleh peraturan-peraturan atau statement-statement umum, dan dipertahankan oleh berbagai tingkat pengujian dan penyelidikan. Dalam kehidupan sehari-hari, manajemen benar-benar melakukan

kedua fungsi tersebut, yaitu sebagai fungsi seni dan juga fungsi ilmu. Kombinasi ini tidak dalam proporsi yang tetap, namun dalam proporsi yang bermacam-macam. Pada umumnya manajer akan efektif menggunakan pendekatan ilmiah dalam pembuatan keputusan, apalagi ditunjang dengan peralatan teknologi yang canggih. Di lain pihak, dalam banyak aspek seperti perencanaan, kepemimpinan, komunikasi, dan segala sesuatu yang menyangkut unsur manusia, manajemen juga harus menggunakan pendekatan seni.

d.  Manajemen sebagai Profesi

Banyak usaha telah dilakukan untuk mengklasifikasikan manajemen sebagai suatu profesi. Berikut diuraikan karakteristik atau kriteria untuk menentukan sesuatu sebagai profesi.

1. Para profesional membuat keputusan atas dasar prinsip-prinsip umum. Adanya pendidikan, kursuskursus dan program-program latihan formal menunjukkan bahwa ada prinsip-prinsip manajemen tertentu yang dapat diandalkan.

2. Para profesional mendapatkan status mereka karena mencapai standar prestasi kerja tertentu, bukan karena favoritisme atau karena suku bangsa atau agamanya dan kriteria politik atau sosial lainnya.

2. Kebutuhan akan Manajemen

Telah dijelaskan di depan, bahwa manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi. Karena dengan manajemen, tujuan organisasi akan mudah tercapai. Sebaliknya, tanpa menajemen pencapaian tujuan akan lebih sulit diwujudkan. Mengapa organisasi membutuhkan manajemen. Berikut alasan mengapa manajemen dibutuhkan.

a. Untuk Pencapaian Tujuan

Secara umum, manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi dan pribadi. Ini artinya manajemen merupakan proses dengan mana tujuan-tujuan organisasi yang ditetapkan dicapai.

b. Untuk Menjaga Keseimbangan di antara Tujuan-Tujuan yang Saling Bertentangan

Manajemen dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran, dan kegiatan-kegiatan yang saling bertentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi, seperti pemilik dan pegawai, debitur maupun kreditor, pelanggan, konsumen, supplier, serikat kerja, asosiasi perdagangan, masyarakat, dan pemerintah.

c. Untuk Mencapai Efisiensi dan Efektivitas

Suatu kerja organisasi yang berbeda dapat diukur dengan banyak cara yang berbeda. Cara yang umum digunakan adalah efisiensi dan efektivitas. Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar. Efisiensi merupakan perhitungan ratio antara keluaran (output) dan masukan (input). Efisiensi dapat dilihat dari pencapaian output yang tinggi dibanding masukan-masukan (tenaga kerja, bahan, uang, mesin, dan waktu) yang digunakan. Dengan input yang terbatas, diperoleh hasil yang maksimum berarti semakin efisien. Sedangkan efektivitas adalah kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atas pencapaian yang telah ditetapkan.

B. TINGKAT-TINGKAT MANAJEMEN

Telah dijelaskan di depan bahwa manajemen terdapat di semua organisasi. Untuk menjalankan manajemen dibutuhkan seorang manajer. Jadi, manajer adalah orang yang bertanggung jawab atas bawahan dan sumber daya organisasi lainnya. Atau dapat dikatakan bahwa manajer merupakan atas keseluruhan manajemen organisasi. kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas atau fungsi-fungsi manajemen. Pada prinsipnya manajer melakukan fungsi yang sama, namun dilihat dari jenis kegiatannya terdapat perbedaan sesuai dengan tingkatan manajer dalam perusahaan. Menurut tingkatan manajemen, manajer dapat  dikelompokkan menjadi tiga kelompok yang berbeda, yaitu:

1. Manajer Lini-Pertama

Manajemen lini/garis pertama (first line atau first level) merupakan manajemen tingkat paling rendah dalam suatu organisasi. Manajer tingkat bawah ini kebanyakan melakukan pengawasan para karyawan, memastikan strategi, kebijakan dan keputusan yang telah diambil oleh manajer puncak dan menengah telah dijalankan dengan baik. Manajer lini juga memiliki andil dan turut serta dalam proses pengimplementasian strategi yang telah ditetapkan. Para manajer untuk tingkat ini disebut kepala atau pimpinan (leader), mandor (foreman), dan penyelia (supervisor). Misalnya mandor dalam pabrik yang mengawasi bagian produksi, kepala seksi yang membawahi tenaga administrasi, dan penyelia teknik dalam perusahan perakitan mesin. Manajer tingkat pertama ini yang sering melakukan komunikasi secara langsung dengan bawahan (pegawai), karena mereka setiap hari akan bertemu dan melakukan interaksi.

2. Manajer Menengah ( Middle Manager)

Manajer menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Manajer ini bertugas mengimplementasikan strategi, kebijakan serta keputusan yang diambil oleh manajer tingkat atas atau puncak. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya atau bisa juga pegawai operasional. Manajer menengah sering disebut manajer departemen, atau kepala pengawas (superintendents). Misalnya, kepala bagian yang membawahi beberapa kepala seksi atau manajemen menengah di tingkat atasnya yaitu kepala subdivisi yang membawahi beberapa kepala bagian.

3. Manajer Puncak ( Top Manager)

Manajer puncak bertanggung jawab atas keseluruhan kinerja dan keefektifan dari suatu perusahaan. Manajer tingkat puncak membuat kebijakan, keputusan dan strategi yang berlaku secara umum pada suatu perusahaan. Manajer puncak juga yang melakukan hubungan dengan perusahaan lain dan pemerintah. Klasifikasi manajer ini terdiri atas sekelompok kecil eksekutif. Manajer ini juga disebut dengan pucuk pimpinan. Misalnya, direktur, presiden, kepala divisi, dan lain-lain.

Tugas-Tugas Penting Manajer

Setiap manajer mempunyai peranan yang lebih luas untuk menggerakkan organisasi atau perusahaan menuju pada sasaran yang telah ditetapkan. Tugas-tugas penting manajer tersebut dapat diperinci sebagai berikut.

1. Manajer harus dapat bekerja dengan dan melalui orang lain. Manajer dituntut untuk dapat bekerja tidak hanya dengan atasan atau bawahan saja, melainkan juga dengan manajer-manajer lain dalam organisasi. Selain itu, manajer harus mampu membina hubungan kerja yang baik dengan individu-individu di luar organisasi, seperti pelanggan, penyelia, pengurus serikat karyawan, pejabat pemerintahan, dan lainlain.

2. Manajer mampu untuk memadukan dan menyeimbangkan tujuan-tujuan yang saling bertentangan dan menetapkan prioritas-prioritas. Setiap manajer harus dapat menjaga keseimbangan di antara tujuan dan kebutuhan organisasi dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.

3. Manajer bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan. Para manajer bertanggung jawab untuk mengelola pekerjaan-pekerjaan tertentu secara sukses. Lebih lanjut lagi, para manajer juga yang akan mempertanggungjawabkan pekerjaan bawahan.

4. Manajer harus berpikir analitis dan konseptual. Manajer harus mampu memerinci dan memisah-misahkan suatu masalah, menganalisis, dan mencari penyelesaiannya secara akurat. Lebih penting lagi, manajer harus dapat menjadi pemikir yang konseptual dan mampu memandang keseluruhan tugas dan mengaitkan dengan tugas-tugas yang lain.

5. Manajer adalah seorang mediator yang menjadi penengah di antara karyawan yang saling bertentangan dan berbeda pendapat.

6. Manajer adalah seorang politisi yang harus mampu mengembangkan hubungan baik untuk mendapat dukungan atas kegiatan, usulan, dan keputusannya dengan mengembangkan jaringan kerja sama timbale balik dengan manajer lain.

7. Manajer adalah seorang diplomat yang berperan sebagai wakil dalam kelompok kerjanya.

8. Manajer mengambil keputusan-keputusan sulit. Manajer adalah orang yang diharap mampu menemukan pemecahan berbagai masalah sulit dan mengambil berbagai keputusan akurat.

C. PRINSIP DAN FUNGSI MANAJEMEN

Manajemen dapat berarti pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Manajer mencapai tujuantujuan organisasi melalui pengaturan orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan atau berarti dengan melaksanakan tugas-tugas itu sendiri. Agar pencapaian tersebut dapat dicapai, maka manajer harus menerapkan prinsip dan fungsi manajemen dengan baik.

1. Prinsip Manajemen

Henry Fayol, seorang industrialis Perancis, mengelompokkan prinsip-prinsip manajemen yang dapat dterapkan dalam mencapai tujuan organisasi. Prinsip-prinsip manajemen tersebut antara lain:

a. Pembagian Kerja (Division of Work)

Pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/obyektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike. Dengan adanya prinsip the right man in the right place akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efisiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagipenyelenggaraan kerja. Kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan. Oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.

b. Wewenang dan Tanggung Jawab (Authority and Responsibility)

Setiap karyawan dilengkapi dengan wewenang untuk melakukan pekerjaan dan setiap wewenang melekat atau diikuti pertanggungjawaban. Wewenang dan tanggung jawab harus seimbang. Setiap pekerjaan harus dapat memberikan pertanggungjawaban yang sesuai dengan wewenang. Oleh karena itu, makin kecil wewenang makin kecil pula pertanggungjawaban demikian pula sebaliknya. Tanggung jawab terbesar terletak pada manajer puncak. Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada karyawan, tetapi terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewenang terbesar adalah manajer puncak. Oleh karena itu, apabila manajer puncak tidak mempunyai keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang ada padanya merupakan bumerang.

c. Disiplin (Dicipline)

Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Disiplin ini berhubungan erat dengan wewenang. Apabila wewenang tidak berjalan dengan semestinya, maka disiplin akan hilang. Oleh karena itu, pemegang wewenang harus dapat menanamkan disiplin terhadap dirinya sendiri sehingga mempunyai tanggung jawab terhadap pekerjaan sesuai dengan wewenang yang ada padanya.

d. Kesatuan Perintah (Unity of Command)

Dalam melaksanakan pekerjaan, karyawan harus memerhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang dari manajer lain kepada seorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja.

e. Kesatuan Arah (Unity of Direction)

Dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, karyawan perlu diarahkan menuju sasarannya. Kesatuan pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja. Kesatuan pengarahan tergantung pula terhadap kesatuan perintah. Dalam pelaksanaan kerja bisa saja terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur yang jelas dari mana karyawan mendapat wewenang untuk melaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang dan tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan kesatuan pengarahan (unity of direction) tidak dapat lepas dari pembagian kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.

f. Meletakkan Kepentingan Individu di bawah Kepentingan Umum (Subordination of Individual Interest to General Interest)

Setiap karyawan harus mengabdikan kepentingan sendiri kepada kepentingan organisasi. Hal semacam itu merupakan suatu syarat yang sangat penting agar setiap kegiatan berjalan dengan ancar sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. Setiap karyawan dapat mengabdikan kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi apabila memiliki kesadaran bahwa kepentingan pribadi sebenarnya tergantung kepada berhasil tidaknya kepentingan organisasi. Prinsip pengabdian kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi dapat terwujud apabila setiap karyawan merasa senang dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.

g. Pembayaran Upah yang Adil (Remuneration of Personal)

Gaji atau upah bagi karyawan merupakan kompensasi yang menentukan terwujudnya kelancaran dalam bekerja. Karyawan yang diliputi perasaan cemas dan kekurangan akan sulit berkonsentrasi terhadap tugas dan kewajibannya sehingga dapat mengakibatkan ketidaksempurnaan dalam bekerja. Oleh karena itu, dalam prinsip penggajian harus dipikirkan bagaimana agar karyawan dapat bekerja dengan tenang. Sistem penggajian harus di erhitungkan agar menimbulkan kedisiplinan dan kegairahan kerja sehingga karyawan berkompetisi untuk membuat prestasi yang lebih besar. Prinsip more pay for more prestige (upah lebih untuk prestasi lebih), dan prinsip upah sama untuk prestasi yang sama perlu diterapkan sebab apabila ada perbedaan akan menimbulkan kelesuan dalam bekerja dan mungkin akan menimbulkan tindakan tidak disiplin.

h. Pemusatan (Centralization)

Pemusatan wewenang akan menimbulkan pemusatan tanggung jawab dalam suatu kegiatan. Tanggung jawab terakhir terletak pada orang yang memegang wewenang tertinggi atau manajer puncak. Pemusatan bukan berarti adanya kekuasaan untuk menggunakan wewenang, melainkan untuk menghindari kesimpangsiuran wewenang dan tanggung jawab. Pemusatan wewenang ini juga tidak menghilangkan asas pelimpahan wewenang (delegation of authority).

i. Rantai Saklar (Scalar Chain)

Pembagian kerja menimbulkan adanya atasan dan bawahan. Bila pembagian kerja ini mencakup area yang cukup luas akan menimbulkan hierarki. Hierarki diukur dari wewenang terbesar yang berada pada manajer puncak dan seterusnya berurutan ke bawah. Dengan adanya hierarki ini, maka setiap karyawan akan mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab dan dari siapa ia mendapat perintah.

j. Tata Tertib (Order)

Ketertiban dalam melaksanakan pekerjaan merupakan syarat utama karena pada dasarnya tidak ada orang yang bisa bekerja dalam keadaan kacau atau tegang. Ketertiban dalam suatu pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik atasan maupun bawahan mempunyai disiplin yang tinggi. Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan.

k. Keadilan (Equity)

Keadilan dan kejujuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Keadilan dan kejujuran terkait dengan moral karyawan dan tidak dapat dipisahkan. Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan mulai dari atasan karena atasan memiliki wewenang yang paling besar. Manajer yang adil dan jujur akan menggunakan wewenangnya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan keadilan dan kejujuran pada bawahannya.

l. Stabilitas Pegawai (Stability of Turnover Personel)

Dalam setiap kegiatan kestabilan karyawan harus dijaga sebaik-baiknya agar segala pekerjaan berjalan dengan lancar. Kestabilan karyawan terwujud karena adanya disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam kegiatan. Manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya memiliki keinginan, perasaan dan pikiran. Apabila keinginannya tidak terpenuhi, perasaan tertekan dan pikiran yang kacau akan menimbulkan goncangan dalam bekerja. Sarana manajemen merupakan alat untuk mencapai tujuan, yang terdiri atas:

1. Man (SDM)

2. Money (Uang)

3. Materials (Bahan)

4. Machines (Mesin)

5. Methods (Metode)

6. Market (Pasar)

m. Inisiatif (Initiative)

Prakarsa timbul dari dalam diri seseorang yang menggunakan daya pikir. Prakarsa menimbulkan kehendak untuk mewujudkan suatu yang berguna bagi penyelesaian pekerjaan dengan sebaikbaiknya. Jadi, dalam prakarsa terhimpun kehendak, perasaan, pikiran, keahlian dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu, setiap prakarsa yang datang dari karyawan harus dihargai. Prakarsa (inisiatif) mengandung arti menghargai orang lain, karena itu hakikatnya manusia butuh penghargaan. Setiap penolakan terhadap prakarsa karyawan merupakan salah satu langkah untuk menolak gairah kerja. Oleh karena itu, seorang manajer yang bijak akan menerima dengan senang hati prakarsa-prakarsa yang dilahirkan karyawannya.

n. Jiwa Kesatuan (Esprit de Corps)

Setiap karyawan harus memiliki rasa kesatuan, yaitu rasa senasib sepenanggungan sehingga menimbulkan semangat kerja sama yang baik. Semangat kesatuan akan lahir apabila setiap karyawan mempunyai kesadaran bahwa setiap karyawan berarti bagi karyawan lain dan karyawan lain sangat dibutuhkan oleh dirinya. Manajer yang memiliki kepemimpinan akan mampu melahirkan semangat kesatuan (esprit de corp), sedangkan manajer yang suka memaksa dengan cara-cara yang kasar akan melahirkan friction de corps (perpecahan dalam korp) dan membawa bencana.

2. Fungsi Manajemen

Manajemen dapat berarti pencapaian tujuan melalui pelaksanaan fungsi-fungsi tertentu. Untuk mencapai tujuannya, perusahaan akan melakukan kegiatan sebagai suatu proses operasional. Proses tersebut antara lain melakukan penjualan, produksi, pembelian, mengatur keuangan, dan personalia. Untuk menjalankan proses itu, perusahaan membutuhkan fungsi-fungsi manajemen yang terdiri atas:

a. Perencanaan (Planning)

Dalam setiap kegiatan maupun organisasi pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Tujuan itu akan dicapai jika didukung dengan perencanaan yang baik.

1)  Pengertian Perencanaan

Perencanaan adalah penentuan suatu tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi di waktu yang akan datang. Kebutuhan akan perencanaan ada di semua tingkatan dan pada kenyataannya meningkat di mana tingkatan tersebut mempunyai dampak potensial terbesar terhadap sukses organisasi. Perencanaan merupakan suatu proses yang tidak berakhir apabila rencana tersebut telah ditetapkan. Salah satu aspek dalam perencanaan adalah pembuatan keputusan (decision making), proses pengembangan dan penyeleksian sekumpulan kegiatan untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Keputusan itu harus dibuat pada berbagai tahap dalam proses perencanaan.

2)  Tujuan Perencanaan

Tujuan perencanaan adalah mendukung tercapainya tujuan perusahaan. Dengan perencanaan perusahaan dapat melihat bahwa program-program dan penemuan-penemuan sekarang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kemungkinan pencapaian tujuan di waktu yang akan datang, yaitu meningkatkan pembuatan keputusan yang lebih baik. Selain itu, perencanaan dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan.

3)  Manfaat Perencanaan

Ada beberapa manfaat perencanaan. Perencanaan dapat:

a)  Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan- perubahan lingkungan.

b)  Membantu mengoordinasikan penyesuaian pada masalahmasalah utama.

c) Memungkinkan manajer memahami gambaran operasional dengan lebih jelas.

d)  Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat.

e) Memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi.

f) Membantu memudahkan pembuatan tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami.

g) Menghemat waktu, usaha, dan dana.

4) Unsur-Unsur Perencanaan

Suatu rencana mengandung unsur-unsur sebagai berikut.

a)  Tujuan Organisasi

Dalam suatu kegiatan, tujuan akhir yang akan dicapai harus jelas. Tujuan itu dapat bersifat materiil, misalnya mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, maupun bersifat moral, misalnya perusahaan bertujuan menyukseskan program pemerintah di bidang pendidikan atau bertujuan memberi kesempatan kerja kepada masyarakat yang menganggur.

b)  Kebijakan Organisasi

Kebijakan merupakan salah satu unsur dalam perencanaan. Kebijakan merupakan aturan atau pedoman yang digariskan pada tindakan organisasi untuk mencapai tujuan dengan hasil yang baik.

c)  Prosedur

Prosedur merupakan suatu urutan pelaksanaan yang harus dituruti oleh organisasi dalam melakukan suatu tindakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

d)  Budget

Budget merupakan suatu anggaran (biaya), yaitu ikhtisar dari hasil-hasil yang diharapkan untuk dicapai, dan pengeluaran yang diperlukan untuk mencapai hasil tersebut yang dinyatakan dalam angka.

e)  Program

Program menunjukkan langkah yang diperlukan dalam pencapaian tujuan, satuan organisasi, yang bertanggung jawab terhadap setiap langkah, dan urutan setiap langkah. Program dapat disertai suatu anggaran bagi kegiatan-kegiatan yang diperlukan.

b.  Pengorganisasian (Organizing)

Pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Aspek-aspek dalam pengorganisasian dapat kamu temukan dalam materi berikut.

1)  Pengertian Pengorganisasian

Pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan di antara para anggota organisasi, agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien. Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan diantara fungsi, bagian atau posisi maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Pelaksanaan proses pengorganisasian yang baik akan membuat suatu organisasi dapat mencapai tujuannya.

2)  Tujuan Pengorganisasian

Tujuan pengorganisasian adalah mempermudah menjalankan tugas. Karena dalam proses ini manajer akan membagi lebih lanjut tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam departemen mereka dan mendelegasikan wewenang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas tersebut. Dalam fungsi pengorganisasian ini terjalin hubungan antara fungsi, jabatan, tugas, dan para pegawai.

3)  Manfaat Pengorganisasian

Manfaat pengorganisasian antara lain:

a) Memungkinkan terjalinnya komunikasi, integrasi berbagai departemen dan kegiatankegiatan yang saling berhubungan.

b) Dengan adanya pembagian kerja dan pendelegasian wewenang, maka setiap anggota organisasi akan mengetahui tugas dan kewajiban, serta tanggung jawabnya masing-masing.

4) Langkah-Langkah dalam Pengorganisasian

Proses pengroganisasian dapat ditunjukkan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a) Memerinci seluruh pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi.

b) Membagi beban kerja ke dalam kegiatan yang secara logika dapat dilaksanakan oleh seseorang atau sekelompok orang.

c) Mengembangkan suatu mekanisme untuk mengoordinasikan pekerjaan para anggota organisasi menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.

c. Pengarahan (Directing)

Fungsi pengarahan berhubungan erat dengan perencanaan. Perencanaan menentukan kombinasi yang paling baik dari faktor-faktor, kekuatan, sumber daya, dan hubungan yang diperlukan untuk mengarahkan dan memotivasi pegawai. Fungsi pengarahan meliputi penerapan unsur-unsur tersebut menjadi pengaruh. Tujuan pengarahan adalah untuk mengoordinasikan kegiatan bawahan, agar kegiatan masing-masing bawahan terkoordinasi untuk mencapai tujuan perusahaan. Dengan adanya pengarahan ini akan terjalin komunikasi antara pimpinan dan karyawan.

d. Pengkoordinasian (Coordinating)

Pengoordinasian merupakan proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada satuan yang terpisah dari suatu organisasi untuk mencapai tujuan  organisasi secara efisien. Tanpa adanya koordinasi, individu maupun departemen dalam organisasi akan kehilangan arah atau pegangan atas Peranan mereka dalam organisasi. Sehingga ada kemungkinan mereka akan mendahulukan kepentingan sendiri dibanding kepentingan organisasi, yang akhirnya akan merugikan pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan. Koordinasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Empat cara utama dalam usaha memelihara koordinasi sebagai berikut.

1)   Mengadakan pertemuan resmi antara unsur-unsur atau unit-unit yang harus dikoordinasikan.

2)   Pimpinan atau atasan mengadakan pertemuan informal dengan bawahannya dalam rangka pemberian bimbingan, konsultasi, dan pengarahan.

3) Mengangkat seseorang, suatu tim koordinator yang mempunyai tugas khusus melakukan kegiatan-kegiatan koordinasi.

4) Membuat buku petunjuk kerja tentang penjelasan tugas masing-masing unit.

e. Pengendalian atau Pengawasan (Controlling)

Pengawasan adalah suatu proses untuk menerapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya, dan apabila diperlukan melakukan koreksi agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula. Hal ini dapat positif maupun negatif. Pengawasan positif mencoba untuk

mengetahui apakah tujuan organisasi dicapai dengan efisien dan efektif. Sedangkan pengawasan negatif mencoba untuk menjamin bahwa kegiatan yang tidak diinginkan atau dibutuhkan tidak terjadi atau terjadi kembali. Pada dasarnya fungsi pengawasan mencakup empat unsur, yaitu:

1)  Menetapkan Standar Pelaksanaan

Standar mengandung arti sebagai suatu satuan pengukuran yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk menilai hasil. Misalnya, menetapkan target penjualan dalam sebulan, dan margin keuntungan yang diinginkan.

2)  Menentukan Ukuran Pelaksanaan

Standar yang diterapkan akan sia-sia jika tidak disertai dengan berbagai cara untuk mengukur pelaksanaan kegiatan. Pengukuran yang dilakukan sebaiknya mudah dilaksanakan dan tidak mahal, serta dapat dijelaskan kepada bawahan.

3)  Mengukur Pelaksanaan Nyata dan Membandingkannya dengan Standar yang telah Ditetapkan

Langkah ini dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus, setelah dilakukannya tahap yang pertama dan kedua. Misalnya, dengan melakukan pengamatan, laporan lisan maupun tertulis, dan pengujian. Selain itu, membandingkan pelaksanaan nyata dengan pelaksanaan yang telah direncanakan.

4) Mengambil Tindakan Koreksi yang Diperlukan jika Pelaksanaan Menyimpang dari Standar

Apabila dalam pelaksanaan kegiatan tidak terjadi penyimpangan, maka tidak perlu dilakukan koreksi. Namun, jika ada kemungkinan terjadi penyimpangan, maka tindakan koreksi harus diterapkan. Tindakan koreksi dapat dilakukan dengan mengubah standar pencapaian dan pelaksanaan diperbaiki, atau keduanya dilakukan secara bersamaan.

D. KONSEP AGRIBISNIS

Agribisnis dapat dibagi menjaadi tiga sektor yang saling menguntungkan secara ekonomis, yaitu sektor masukan (input), produksi (farm), dan sektor keluaran (output).

Sektor masukan menyediakan perbekalan kepada para pengusaha tani untuk dapat memproduksi hasil tanaman dan ternak. Termasuk dalam masukan ini addalah bibit, makanan ternak, pupuk, bahan kimia, mesin pertanian, bahan bakar, dan banyak perbekalan lainnya. Sektor usaha tani memproduksi hasil tanaman dan hasil ternak yang diproses dan disebarkan kepada konsumen akhir oleh sector keluaran.

Dua buah definisi tentang agribisnis telah diterima secara umum. Definisi pertama hanya menyinggung sector masukan sebagaimana dilukiskan diatas, jadi definisi agribisnis yang sempit atau tradisional  hanya merujuk pada produsen dan pembuat bahan masukan untuk produksi pertanian. Beberapa badan usaha yang dicakup disini antara lain adalah penyalur bahan kimia, pupuk buatan, dan mesin-mesin pertanian, pembuatan benih dan makanan ternak; serta kredit pertanian dan lembaga keuangan lainnya yang melayani sector produksi.

Dewasa ini, pandangan tentang agribisnis  yang secara umum dianggap tepat sudah semakin meluas. Menurut pandangan ini, agribisnis mencakup keseluruhan perusahaan yang terkait dengan kegiatan sebagaimana uraian pada gambar berikut ini.

Artinya, agribisnis meliputi seluruh sektor bahan masukan, usaha tani, produk yang memasok bahan masukan usaha tani; terlibat dalam produksi; dan pada akhirnya menangani pemrosesan, penyebaran, penjualan secara borongan dan penjualan eceran kepada konsumen akhir.

ORGANISASI AGRIBISNIS

BENTUK-BENTUK DASAR ORGANISASI

Agribisnis dapat bergerak dalam kegiatan apa saja yang ada kaitannya dengan produksi, pemrosesan, dan pemasaran  bahan pangan dan ssandang. Walaupun agribisnis yang dikelola satu  orang atau satu keluarga bukan tidak biasa, tetapi hampir semua volume bisnis yang sebenarnya di dalam pertanian diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan sekolompok orang.

Semua agribisnis dimiliki oleh seseorang atau sekolompok orang, dan keadaan pemiliklah yang menentukan bentuk hukum yang pasti bagi organisasi tersebut. Ada empat bentuk dasar usaha: perusahaan perorangan (single proprietorship), persekutuan (partnership), perseroan (badan hukum), dan koperasi. Bentuk organisasi tidak perlu ditentukan oleh ukuran atau jenis agribisnis; hampir setiap ukuran dan jenis agribisnis yang ada dapat mengambil salah satu bentuk dari keempat kategori hukum tersebut.

Banyak keunggulan dan kelemahan dari masing-masing keempat bentuk organisasi harus ditimbang secara hati-hati karena masing-masing bentuk cenderung lebih sesuai dengan suatu keadaan setimbang bentuk lainnya. Bab ini akan menjelaskan sifat-sifat pokok dari masing-masing bentuk dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan untuk agrinbisnis.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN BENTUK

Setiap bentuk organisasi bisnis mempunyai ciri-ciri sendiri. Pemilik dan manajer harus memilih bentuk yang paling pantas untuk masing-masing agribisnis yang unik. Agribisnis mungkin perlu mengubah bentuk hukum organisasinya jika berkembang atau kondisinya berubah. Guna memutuskan bentuk mana yang paling baik, pemilik atau para pemilik harus menganalisis  beberapa faktor :

  1. Berapa jumlah biaya pengorganisasian dan seberapa mudah bentuk agribisnis ini diorganisasi ?
  2. Berapa jumlah modal yang dibutuhkan untuk menjalankan agribisnis tersebut ?
  3. Berapa modal pemilik atau para pemilik yang telah tersedia ?
  4. Seberapa jauh kemudahan untuk memperoleh tambahan modal dalam agribisnis tersebut ?
  5. Kewajiban dan hak pilih atau opsi apa yang tersedia dalam perpajakan ?
  6. Bagaimana pemilik atau para pemilik akan dilibatkan secara perorangan dalam manajemen dan pengendalian agribisnis ?
  7. Apa saja faktor stabilitas, kesinambungan, dan pengalihan pemilikan yang penting untuk agri bisnis ?
  8. Sampai sejauh mana kerahasiaan masalah agribisnis ingin dipertahankan?
  9. Berapa besar resiko dan kewajiban yang harus dipikul pemilik atau para pemilik ?

10. Apakah jenis/tipe bisnisnya, di mana akan dilangsungkan, dan apa yang menjadi sasaran dan falsafat pemilik atau para pemilik untuk agribisnis tersebut ?

Penilaian dari masing-masing faktor ini akan memungkinkan pemilihan bentuk organisasi bisnis yang paling sesuai untuk setiap kasus

PERUSAHAAN PERORANGAN

Bentuk organisasi bisnis yang paling tua dan paling sederhana adalah perusahaan perorangan atau pribadi (single or individual proprietorship), yakni organisasi yang dimiliki  dan dikendalikan oleh satu orang.

Perusahaan perorangan cenderung merupakan bisnis kecil, walaupun ada perkecualian yang menarik; keuntungan yang ditimbun oleh howard Hughes, misalnya, sebagian besar dikumpulkan dari perusahaan perorangan. Apabila bisnis mencapai ukuran tertentu, bentuk organisasi bisnis lainnya biasanya menjadi lebih menarik.

KEUNGGULAN PERUSAHAAN PERORANGAN

Persyaratan formal untuk membentuk organisasi perusahaan perseorangan sangat terbatas jumlahnya. Untuk semua itu yang diperlukan hanyalah keinginan seseorang untuk memulai bisnis dan membeli surat izin bila diperlukan untuk jenis bisnis tertentu.

Perusahaan perorangan memungkinkan pemilik perorangan memegang kendali penuh atas bisnisnya dan hanya tunduk pada peraturan pemerintah yang berlaku untuk semua tipe bisnis ini. Pemilik menjalakan kendali penuh atas rencana, program, modal, kebijakan, dan keputusan manajemen lainnya. Tidak ada pihak lain yang ikut serta dalam pengendalian ini, kecuali kalau pemilik secara khusus mendelegasikan sebagian wewenang pengendalian  kepada orang lain. Pemilik tidak perlu mendapat izin untuk membuat keputusan. Semua keuntungan dan kerugian, semua kewajiban/hutang kepada kreditur (pemberi pinjaman) dan piutang, dibebankan kepada pemilik. Biaya pengorganisasian dan pembubaran rendah. Perkara-perkara bisnis dirahasikan penuh kepada pihak luar, kecuali untuk instansi-instansi pemerintah tertentu.

Sekiranya modal diperlukan, pemiliknya akan menyedikannya dari dan pribadi atau dipinjam entah dari bisnis lainnya atau harta pribadi. Harta pribadi dan harta bisnis tidak begitu terpisah, sebagaimana dalam beberapabentuk bisnis lainnya. Itulah sebabnya, bila pemilik sebagai individu secara financial dapat dipercaya, para pemberi pinjaman akan lebih suka mempebesar dananya. Pemilik dapat menjual bisninya kepada siapa saja yang dia inginkan, kapan saja dia mau, dan dengan harga beberapa saja yang dirasa memuaskan. Mereka dapat menanggung resiko dan kewajiban (liability) sebesar mereka inginkan, dan mereka sering melangkah sedemikian jauh karena tidak ada pihak lain yang terlibat sebagai pemilik yang bisa membatasi gerak-gerak mereka.

KELEMAHAN PERUSAHAAN PERORANGAN

Kelemahan yang sangat menyolok dari perusahaan berkaitan dengan keterbatasan jumlah modal yang bisanya dapat disumbangkan seseorang. Pemberi pinjaman juga enggan meminjamkan dana kepada pemilik perorangan kecuali jika kejujuran pribadi seseorang dapat menjaminnya. Perusahaan perorangan seringmenderita kekurangan modal, dan kekurangan serius ini dapat berakibat lebih buruk daripada hanya menghalangi pertumbuhan; beribu-ribu kebangkrutan setiap tahun dapat dilacak ternyata merupakan akibat kekurangan modal sejak permulaannya.

Kelemahan lainnya yang sangat menonjol adalah bahwa kewajiban pribadi sebagai pemilik untuk semua hutang dan kewajiban bisnis meluas bahkan kepada warisan pribadi pemilik. Sedangkan pembesaran dari pajak bisnis yang biasanya merupakan keunggulan dapat juga menjadi kelemahan. Karena keuntungan pada perusahaan perorangan dianggap keuntungan pemilik, maka keuntungan bisnis yang tinggi bisa mengakibatkan pemilik dikenakan tariff pajak yang lebih tinggi daripada bentuk perseroan. Hal ini lebih merugikan lagi bila diperlukan dana perluasan untuk menumbuhkan dan memperbesar bisnis. Tariff pajak perseroan unggul atau lebih menguntungkan dalam hal semacam itu.

Pemusatan kendali dan laba pada satu individu dapat juga merupakan satu  kelemahan. Banyak karyawan yang sangat terlatih dan bermotivasi ingin ambil bagian secara financial di dalam bisnis tempat mereka bekerja. Mereka juga dapat merasa tidak tenang karena menyadari kenyataan bahwa masa depan kesejahteraan dan kehidupannya tergantung pada satu orang. Jadi perusahaan perorangan dapat mengalami beberpa kesulitan dalam mencari karyawan yang baik untuk dipekerjakan. Tanpa karyawan yang baik dan mempunyai motivasi tinggi, pemilik akan merasa terlalu repot apabila bisnis bertumbuh, yang akhirnya mengakibatkan bisnis menjadi menderita.

Akhirnya, perusahan perorangan kekurangan stabilitas dan kesinambungan Karena sangat tergantung kepada satu orang. Kematian atau ketidakcakapan orang itu akan mengakibatkan berakhirnya bisnis. Perusahaan perorangan mungkit sulit untuk menjual atau melanjutkannya kepada ahli waris. Hal ini tampak sekali kalau bisnis telah menjadi agak besar. Andil atau bagian perorangan pada bisnis tidak dapat dibagi-bagi kepada beberapa pemilik individual kepada ahli waris seperti halnya andil (saham) perseroan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: